2 minggu yang lalu, saya sedang bertugas di sebuah rumah sakit. Saya menyukai rumah sakit ini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, saya selalu mendapat banyak pelajaran. Pelajaran untuk menjadi dokter yang baik.
Saya sedang stase di ilmu penyakit dalam. Sehari-hari saya membantu dokter PPDS pemegang ruangan untuk mengfollow up beberapa pasien, dan melaporkannya. Jumlah pasien sangat banyak, sehingga setelah dibagi-bagi dengan teman sekelompok saya bisa mendapat jatah 4-7 pasien tiap hari. Setiap pagi saya harus sudah berada di ruang bangsal sekitar jam setengah 7 pagi, menanyakan keluhan-keluhan yang masih dirasa pasien, memeriksa fisik pasien, mengecek hasil laboratorium yang sudah keluar dan menganalisa penyakit/ masalah pasien, sampai mengecek obat-obatan yang diterima pasien. Belajar menjadi dokter sebenarnya, seni menjadi seorang dokter yang tiap individu mempunyai caranya masing-masing, termasuk saya sendiri. Namun dari situ, saya tidak hanya belajar menjadi untuk menjadi dokter, saya belajar banyak tentang kehidupan, membuat saya makin mensyukuri atas apa yang telah saya dapatkan,
belajar makin mencintai Allah
bismillahirrahmaanirrahiim
nb: teruntuk almarhum, yang darinya saya mendapat pelajaran bermakna. Maafkan segala kekhilafan saya, dan terima kasih atas kepercayaan dan kekuatan yang beliau beri pada saya, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, dan diberikan tempat terindah di syurga, amin.
Pasien pertama: ketika saya putus asa
Seorang laki-laki berusia sekitar 40-50 tahun. Beliau datang dengan keluhan muntah dan buang air besar berdarah. Pasien dicurigai memiliki sirosis hati, dan muntah dan buang air besar berdarahnya dicurigai akibat varises esofagus (komplikasi dari sirosis hati). Hari pertama saya follow up (beliau sudah 3 hari dirawat sebelum saya mulai mengfollow up beliau) keadaan umum pasien sudah membaik. Tidak ada lagi keluhan muntah ataupun buang air besar berdarah. Semuanya tampak baik. Pada saat ronde, karena keadaan pasien tampak mengalami perbaikan, akhirnya pasien yang sebelumnya menggunakan NGT (selang makan yang dimasukkan dari hidung sampai ke lambung, untuk mencegah muntah darah dan BAB berdarah yg berlanjut) akhirnya alat tersebut dilepas. Pasien sudah bisa minum dan makan makanan cair sendiri. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada keluhan.
Sampai besok paginya ketika saya hendak visit, pasien muntah dan BAB berdarah lagi. Kali ini benar-benar berat. Pasien muntah darah berkali-kali dan BAB (mencret) darah berulang kali. Berat, dan jumlahnya banyak.
In my head : Pasien ini banyak kehilangan darah.
Saya panik
Satu-satunya hal yang ada dalam pikiran daya adalah live saving. Segera saya loading cairan infus secepatnya, sebagai cairan pengganti darah yang banyak hilang. Saya cek tanda vital tiap 5 menit, berharap syok yang terjadi dapat tertangani untuk sementara. Saya telepon dokter PPDSnya dan menyarankan hal yang sama seperti yang telah saya lakukan dan NGT di pasang kembali. Setengah jam kemudian, tanda vital pasien membaik. Saya sedikit lega. Tapi pasien ini tetap butuh transfusi darah. Cairan yang saya beri tidak cukup membantu. Dia tetap butuh darah pengganti. Akhirnya salah seorang keluarga dari pasien pergi untuk cari darah ke PMI. Ditulislah besar-besar di lembar permintaan darah kata CITO (artinya: SEGERA!), saya berharap pasien mendapatkan darah dengan segera pula. Namun, harapan saya ternyata meleset. Bahkan kata CITO sendiri bagi PMI mungkin biasa saja, karena terlalu banyak juga pasien-pasien lain di tempat lain yang juga membutuhkan darah CITO. Bahkan keluarga pasien sudah mencari darah sampai PMI di kota lain. Tapi tetap saja nihil.
Dini hari, sekitar pukul 6 malam, pasien baru mendapatkan darah. Saya sedikit lega, namun saya juga kecewa. Hampir 12 jam transfusi darah baru didapatkan. Saya bisa bilang, sangat terlambat. Pasien sudah tampak sesak dan tanda vitalnya memburuk. Berulang kali saya loading cairan, tapi tensinya tetap rendah.
Saat itu saya benar-benar tidak rela beliau meninggal. Saya ingin bisa menyelamatkannya. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya.
Dan saya seperti memikirkan 2 orang yang sedang berdebat dalam hati saya, surely
A:Ya Allah, saya ingin beliau selamat
B: untuk apa? Kenapa?
A: untuk keluarganya, keluarga yang membutuhkannya
B: kalau dia selamat, nanti jangan-jangan kamu jadi riya! Sombong sama diri sendiri! Atau niat kamu karena ingin menyombongkan diri?
Saat itu saya benar-benar takut sombong, saya takut apa yang saya perjuangkan justru menjadi penyakit hati.
”Segala sesuatunya bisa kamu rencanakan, tapi satu hal, Allah yang menentukan”
Kalimat itu, terus terngiang, mencoba menerima, tapi jujur, saya rasa tidak ikhlas dalam hati saya. Saya tetap ingin bapak selamat.
Berjam-jam saya ada di samping pasien, bahkan 2 hari sudah menjadi waktu yang cukup untuk saya dan keluarga pasien menjadi sangat dekat. Mereka seperti keluarga saya sendiri, dan si bapak (red:pasien) sudah saya anggap ayah saya sendiri. Beliau baik sekali, beliau bahkan sangat tegar dan terlihat kuat ketika berulang kali beliau muntah darah. Menganggap semuanya biasa saja dan akan baik-baik saja. Justru beliau yang menenangkan saya. Melihat saya yang begitu panik dan tidak rela meninggalkan beliau barang semenit, beliau justru menenangkan saya.
Dia mengatakan sesuatu pada saya, namun saya tidak bisa mendengarnya dengan jelas, hanya kalimat akhir yang bisa saya tangkap.
”dokter sudah berusaha, kita sudah berusaha. Saya ihklas kepada keputusan Allah”
Bahkan yang sakit pun sudah ikhlas. Tapi saya tidak.
”iya pak, pokoknya bapak terus berdoa ya, terus berusaha”
Beliau hanya mengangguk
Itu kata terakhir bapak.
Dengan segala kendala yang terjadi, akhirnya bapak dapat transfusi. Tapi, saya memang hanya bisa berencana. Bapak meninggal sampai usaha terakhir saya mengRJP.
Saya depresi berat. Bahkan saya sudah tidak ada tenaga lagi untuk menangis. Saya anggap diri saya gagal. Saya anggap diri saya tidak berguna. Bahkan saya tidak berani bertemu dengan keluarga pasien lagi. Langit saya runtuh saat itu.
Saya putus asa
Pasien kedua: pergi begitu saja.
Esok hari, saya dapat pasien baru, dengan kondisi yang sudah buruk. Seorang wanita usia 50 tahun dengan ketoasidosis diabetikum, dan ensefalopati uremikum. kapanpun bisa meninggal. Kondisi yang mengharuskan pasien dirawat di ICU, namun karena ICU rumah sakit tersebut penuh, dan keluarga pasien tidak ada dana, akhirnya hanya di rawat di bangsal biasa. Saya masih dalam keadaan depresi. Masih dalam keadaan putus asa. Dan rasa ingin menolong saya sedang hilang, pergi entah kemana. Saya follow up sebisanya. Menjelaskan kepada keluarga. Saya tidak berani lagi mendekatkan diri dengan keluarga pasien. Saya tidak ingin lagi jatuh ke dalam keadaan simpati.
Malam harinya saya dengar pasien saya meninggal, meskipun saya tidak melihatnya, dan berpikir ”ya sudahlah, penyakitnya juga sudah parah, kan mestinya juga dirawat di ICU”
Ya Allah, ini dosa hamba
Dosa hamba yang terlalu mudah putus asa. Dosa hamba yang tidak mau lagi berusaha.
Dia juga punya hak yang sama seperti pasien saya yang pertama. Hidup matinya harus saya perjuangkan, meskipun hidup mati adalah hak milikMu.
Dia pergi begitu saja, tanpa saya perjuangkan
Pasien ketiga: sendiri
Laki-laki usia sekitar 30-40 tahun, dengan penyakit yang cukup banyak, gagal ginjal kronikàhipoalbuminemiaàedema anasarka (bengkak seluruh tubuh). Pasien setiap hari tampak sesak, dan banyak lendir dalam paru-parunya. Cairan dalam tubuhnya begitu banyak, dan tidak bisa keluar, membuat seluruh tubuhnya bengkak karena cairan. Pasien sudah tidak bisa bergerak. Hanya terbaring tidur tak bisa bergerak. Setiap kali saya visit, keluhannya hanya sesak. Sesak yang tiap hari makin berat. Sesak karena timbunan cairan dalam paru-parunya, sesak karena banyak lendir dalam saluran nafasnya, sesak, sesak. Di matanya, saya selalu melihat ada semangat hidup yang kuat. Ada semangat untuk bisa sembuh yang besar. Namun miris bila semangat itu terbentur dengan ketidakmampuan. Ketidakmampuan untuk bisa membeli obat yang harganya jutaan rupiah.
Ketidakmampuan.
Satu lagi yang membuat saya kecewa, membuat saya marah. Marah dengan keadaan. Dia dipaksa mematahkan semangat hidupnya karena ketidakmampuan. Marah melihat para pejabat ganti mobil mewah. Marah melihat uang puluhan milyar hanya untuk ganti pagar istana. Marah melihat tidak semua orang kurang mampu mendapatkan jaminan kesehatan, termasuk dirinya. MARAH TERHADAP MURAHNYA HARGA SEBUAH NYAWA.
Ketika jatah ganti mobil pejabat atau istana ganti pagar karena alasan ini adalah simbol negara, simbol untuk dilihat oleh negara lain. My dad said ” kalo negara lain lihat indonesia pejabatnya punya mobil butut, bisa dijajah lagi kita”...
HOW COME?
Lalu apakah tingkat kesehatan yang rendah bukan suatu simbol buruknya kinerja suatu negara? Apakah tingkat kematian ibu juga bukan simbol suatu negara? Angka kejadian penyakit-penyakit yang selalu menjadi peringkat teratas dibanding negara lainnya yang bahkan tidak sekaya indonesia bukan simbol suatu negara? Mau menyombongkan apa kita? Saya bahkan selalu malu ketika setiap kuliah mendapati peringkat-peringkat atas yang kita punya kalau masalah buruknya kesehatan.
Miskin tapi sombong
Dan pasien ini termasuk korban dari kesombongan negara saya.
Pagi itu saya masih dilanda keputus-asaan, setelah 2 kejadian dua pasien saya meninggal.
Pukul 6 pagi saya dapat telepon dari bangsal, memberitahukan bahwa pasien saya mengalami penurunan kesadaran. Saya makin depresi. Bukannya bersegera ke bangsal saya justru melangkah gontai. Keputusasaan masih menghantui saya. Apakah sekali lagi?
Setiba di bed pasien, saya mendapati pasien, dengan napas satu-satu, lidahnya tergigit, biru. Lagi-lagi saya dilanda kepanikan. Saya coba bangunkan, namun tidak bisa. Saya coba tensi dan raba nadi, namun saya tidak bisa mendapatkannya. Saya lari memanggil teman saya.
Sudah tidak bisa ditolong lagi
Sudah meninggal
Lagi-lagi saya depresi. Tapi saat itu saya benar-benar tertampar. Saya nggak bisa kayak gini terus. Tenggelam dalam keputus asaan.
Pasien ini, meninggal sendirian. Tanpa keluarga, tanpa teman disampingnya yang menuntunnya dalam lafaz-lafaz Allah, tanpa perawat yang menyadari kegawatannya, dan tanpa perhatian dan perjuangan saya. Dia sendiri. Bahkan setelah meninggal pun, tidak ada keluarga yang mau menjemput atau menangisi mayatnya.
Dia sendiri
Terbujur kaku
Sejak awal saya follow up beliau, tidak ada keluarga atau kerabat yang menemani, entah mengapa. Hanya beberapa teman kerja beliau yang secara bergantian menemani. Bahkan saat ajal menjemputnya, tidak ada yang menemani. Meneguhkan semangat yang ia punya.
Tanpa keluarga. Tanpa teman. Tanpa perawat.
Tanpa saya.
Hanya sendiri
Ketika menyadari betapa teganya keluarga sang pasien meninggalkan pasien begitu saja, saya pun termasuk yang meninggalkannya. Mungkin saya punya dosa yang sama.
Saya begitu tega. Karena keputus asaan yang berlarut-larut saya begitu tega meninggalkannya.
Hari itu saya mengadu pada ibu. Saya menangis sendiri di kamar. Menelepon ibu. Saya butuh seseorang yang memarahi saya. Dan saya dapatkan itu. Ibu marah pada saya. Kepada saya yang berputus asa. Kepada saya yang tidak tegar. Kepada saya yang mudah menyerah. Kepada saya yang tidak ikhlas terhadap semua takdir Allah.
Kepada saya yang berburuk sangka kepada Allah
Ya. Saya mendapati dasar kesalahan saya selama ini.
Buruk sangka. Sungguh Allah maha mengetahui. Maha mengetahui dari apa-apa yang tidak saya ketahui. Mengetahui bahwa segalanya telah diberikan yang terbaik. Terbaik untuk semuanya.
Memaknai apa arti bersabar, apa arti bertawakal, apa arti ikhlas setelah berusaha.
Allah maha penyayang, Allah menyayangi pasien-pasien saya, Allah tidak ingin membuat pasien saya makin menderita karena penyakitnya, keluarganya yang kesulitan uang main menderita bila dirawat lebih lama. Ada banyak sudut pandang yang harus saya lihat. Sudut pandang yang sebelumnya tidak saya lihat.
Allah maha penyayang.
Menyayangi saya, sehingga saya masih bisa mengetahui kesalahan saya.
Memberikan saya banyak ilmu.
Mengapa Allah meninggikan orang yang berilmu dibanding orang yang tidak berilmu.
Mengutamakan ilmu yang bermanfaat
Memberikan kesempatan berusaha, dan Allah akan mengubah takdir orang yang berusaha
lalu Allah akan memberikan jalan yang terbaik, meskipun dari sudut pandang kita terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Setiap detik ini, ada jutaan ilmu yang mengalir yang bisa saya dapatkan.
Berbaik sangka kepada Allah, maka hati ini akan begitu ringan untuk dibawa.
Ikhlas akan apa yang terjadi setelah melakukan yang terbaik, maka hati ini akan begitu lapang terasa.
To cure sometimes, to relieve often, to comfort always
Hari ini, 22 tahun yang lalu, saya lahir di dunia ini.
22 tahun sudah, waktu saya berkurang
Kalau boleh introspeksi dan memperbaiki diri, saya ingin menghilangkan satu sifat yang menurut saya penting untuk saya hilangkan.
Malas
Karena Allah benci orang-orang yang malas. Karena sifat malas berasal dari syetan.
Karena dengan bermalas-malasan artinya membuang waktu dengan percuma.
dan ketika hati dan pikiran ini lelah, sungguh hanya Allah tempatku bersujud dan beristirahat
sekarang saya akan berjuang, menghilangkan rasa malas. bismillah!
